Selasa, 18 Juni 2013

Pacaran Nowadays?

Halo Assalamualaikum :)
Masih ingat dengan posting-posting di bawah sana yang dirasa tidak terlalu penting itu? Dalam posting ini insyaAllah berisikan jawaban-jawabannya. So let's check this out.
Kadang aku mikir, bersyukur banget waktu itu aku memutuskan buat putus hubungan. Padahal waktu itu aku mikir serasa dunia runtuh. Dan ternyata duniaku yang runtuh itu bukan duniaku yang sebenarnya, setelah dunia itu runtuh, aku merasa berada di dalam dunia yang jauh lebih indah. Tahu kenapa?
(intermezzo: semua yang aku tulis disini adalah semua hal yang aku alami langsung)
Dahulu kala, sewaktu aku masih pacaran, seakan semua hal adalah tentang satu orang saja, kita sebut saja Mr-Ex hehe. Dan benar saja, karena semua tentang satu orang, aku jadi tidak punya teman lain karena fokusku cuma satu orang. Useless isn't it? Next, waktu aku masih pacaran, seakan-akan ada tali besar yang mengikat seluruh tubuh sehingga aku tidak bisa bebas untuk bergerak. Contoh real: dilarang naik mobil. Mungkin kalo bukan dilarang, si tersangka ini kurang suka. Bahkan aku sampe berusaha dan berpikir keras gimana caranya bohong sama orang tua biar aku nggak naik mobil. Hellooo, orang tuaku aja nggak pernah ngekang-ngekang aku, nah ini? keluarga aja bukan gitu loh. Kalo dia bilang bilang demi kebaikanku? That's bullshit. Demi kebaikan dia dulu yang pasti. Buktinya udah banyak.
Dan nyeselnya, karena terlalu fokus pacaran (khususnya kelas 3 SMA) aku jadi nggak punya satupun teman yang bisa jadi pegangan. Repot banget nggak sih, bayangin aja kalo nanti ada reuni-reuni, yang jadi tempat kumpul pasti kelas 3 SMA, entah gimana deh, entah. Ini salah satu hal yang bikin aku desperate kadang. Penyesalan memang selalu di akhir.
(intermezzo: mungkin posting ini akan berisi judgement-judgement yang sedikit sarkastik, so be ready ;) )
Sekarang, setelah aku putus, aku ngerasa punya segudang teman yang totally care sama aku. Entah aku yang GR apa gimana (semoga enggak), tapi aku tau mereka semua sayang sama aku. Dan aku baru ngerasain yang namanya punya hubungan persahabatan sekeren ini seumur hidup, dengan orang banyak. Dalam hal ini dengan kelasku di waktu kuliah. Entah kenapa aku suka semua orang yang ada di kelasku ini, sebagai teman, sahabat sekalian kalau perlu. Semoga nggak ada yang bikin perasaanku ini luntur terhadap kelas B.
Dulu aku ngerasa bersalah banget kalo mau naik mobil, harus tau situasi, kalo nggak ya ngumpet-ngumpet biar nggak ketahuan. Sekarang? I'm free, you know? Bodo amat gitu loh aku mau naik mobil kapan aja, kemana aja, sama siapa aja, buat urusan apa aja? Ya emang aku nggak sering-sering amat sih naik mobil, karena buat kuliah sekarang-sekarang ini lebih efisien naik motor, apalagi ada rumah di atas. Motor adalah sarana transportasi utama buat aku. Alhamdulillah aku di beliin motor sama orang tua. Tapi kalau misal aku butuh mobil buat misal nganter-nganter barang. atau nganter temen-temen, ya I'm free to use it now! enak aja ngelarang-ngelarang. Kalo cuma buat jaga harga diri dia, suatu kebodohan dan kesalahan besar buat aku.
Itu baru salah satu contoh kecil, banyak banget hal-hal lain yang aku rasa adalah suatu kesalahan dalam sejarah aku dilahirkan ke bumi ini. Aku jadi makin pinter bohong sama orang tua. Bener-bener nggak jujur dan nggak fleksibel. Yang paling parahnya lagi, aku bukan jadi orang yang lebih baik setelah aku pacaran, justru sebaliknya. Entahlah, mungkin otakku bisa berfungsi dengan sangat baik sekali setelah putuh sehingga aku bisa memikirkan semuanya secara rasional dan penuh pertimbangan. Kadang aku berpikir kenapa nggak dari dulu aku mikir kayak gini. Well, mungkin karena dulu otakku lagi offline dan hati menguasai segalanya serta dibutakan oleh perasaan cinta yang bukan semestinya. Memang perasaan manusia itu tidak ada yang salah, tapi dampak dari perasaan itu mampu menghancurkan segalanya kalau tidak diimbangi dengan peran dari otak. Kecintaan terhadap manusia yang berlebihan pasti akan menimbulkan petaka. Ujian duniawi semacam ini memang sulit dipahami dan diterka, tapi kalau terlambat menyadari, mungkin akibatnya akan lebih parah lagi dari ini.
Baru-baru ini ada yang bilang "cuma gara-gara mikirin kamu aku sampe habis 1 pack rokok setiap harinya", aku langsung mikir. Baru segini aja udah gitu reaksinya, gimana kalo dikasih ujian yang lebih dari ini coba, bisa bunuh diri kali. Lagipula banyak hal lain yang bisa dilakukan setelah putus. Kenapa sampai segitunya cuma gara-gara perasaan cinta terhadap seseorang yang jadi mahram nya saja belum tentu. Kalo itu yang namanya cinta membutakan segalanya, betapa sialnya orang yang jatuh cinta itu.
Sebenernya arti cinta sejati itu seperti apa sih? apakah harus rela terperosok ke dalam jurang bersama-sama demi mengungkapkan perasaan cinta itu? mungkin aku masih terlalu polos untuk mengerti hal-hal seperti ini, tapi untuk level aku yang sekarang ini, hal semacam itu terasa sangat menggelikan. Entah, tapi pengalaman satu kali pacaran ini membuat aku menyadari banyak hal, belajar dari pengalaman dan melihat dari berbagai sudut pandang yang mungkin tidak semua orang menyadarinya. Dan aku bersyukur akan hal itu.
Sekarang ini, yang aku pikir tentang orang yang pengen pacaran atau TTM-an atau apalah namanya, itu adalah:
1. Orang yang pengen enaknya doang tanpa mau usaha dulu
2. Orang yang nggak taat sama Tuhannya
3. Orang yang belom punya kesiapan, tapi pengen ngeraih hasil yang maksimal
4. Orang yang masih takut sama orang tua si perempuan (maksudnya belom siap ngelamar gitu)
5. Orang yang memilih jalan pintas
6. Orang yang aku maksud di atas adalah laki-laki. karena kalo perempuan beda lagi prinsipnya
Kira-kira begitu. Dan bagi hal-hal seperti ini (hal-hal yang belum pasti), bukan maksain solusinya, tapi tawakal. Berserah diri seutuhnya kepada Allah. Kalo jodoh pasti bakal ketemu lagi kok.
Ini hasil pemikiran murni dari hal-hal yang aku alami langsung. Sama sekali tidak ada yang memberikan petuah-petuah ini kepada aku kalo aku nggak ngalami ini semua. Bersyukurnya luar biasa masyaAllah.
Dan setelah aku mikir tentang hal ini. Ada satu orang yang seakan membenarkan prinsipku. Adalah Ustadz Felix Siauw dalam bukunya yang berjudul "Udah Putusin Aja". Ringkasannya ada di Chipstories dia:
http://chirpstory.com/li/8146
http://chirpstory.com/li/7625
Keren kan? :3 Semua yang dia tulis langsung kena ke hati. Rasanya kayak ada yang ngedukung penuh sama prinsipku ini. Nah, hal yang jauh lebih sulit dari semua prinsip tadi adalah satu hal. Yaitu istiqomah. Karena semakin kita berusaha buat istiqomah, semakin banyak pula godaan dan cobaan yang datang. Tapi yang lagi-lagi aku syukuri saat ini adalah sikap apatisku tentang hal-hal yang berbau percintaan. Sikapku ini sangat menguntungkan, tidak cuma bagi diri sendiri, bahkan hingga orang lain. Aku merasa lebih bisa berguna bagi orang banyak, dan itu amazing. Ibarat burung merpati yang lepas dari kurungan, lalu bisa terbang sejauh mata memandang. Tetapi sikap apatisku ini juga tetap harus dibarengi dengan doa. Karena perasaan yang dipendam dalam doa dan diserahkan kepada Yang Maha Mengabulkan Permintaan akan lebih bermakna dibandingkan dengan hanya berusaha mengungkapkannya tetapi justru merugikan banyak pihak. Dan semua penantian ini insyaAllah cuma aku persembahkan buat calon suamiku nanti yang aku tunggu kedatangannya.
Bismillahirrahmanirahim.
Niat udah di tangan, kalau bisa diresapi dalam hati dan diamalkan dengan benar. Say no to pacaran ;)
Wassalamualaikum.

2 komentar:

  1. waaaaaah, tiaraaa, keren banget. pengalaman yg 'berharga' tu tir. alhamdulillah sudah 'berhenti' kaaan? :D

    semoga istiqomah yaaaa :*

    BalasHapus
  2. hahaha jadi malu nih aiis, aamiin insyaAllah doain aja yaa hahaha :*

    BalasHapus