Hell-o people.
So, if you read this posting, I’m in my second semester on grade 12 of senior high school. And starting to become crazy because of exams and project to get university.
(changing subtitle) Hari ini hari terakhir liburan semester ganjil di kelas 12. Dan rasanya seneng campur sedih. Seneng, soalnya aku kangen semua hal yang ada di sekolah, terutama suasananya. Sedih, soalnya udah nggak bakal ada lagi waktu luang buat santai-santai, dan aku bakal disibukkan oleh buku-buku, pelajaran tambahan, bimbingan belajar, les privat, dan bla bla bla bla. Yang pasti lainnya, nggak bakal ada waktu buat pacaran. Tapi itu nggak masalah, selama ini aku juga nggak pernah nuntut yang muluk-muluk tentang ini. Mungkin temen-temen lainnya mikir orang yang pacaran itu harus sering ngedate, smsan setiap hari setiap jam setiap menit, nonton bioskop, dan lain-lain. Tapi buatku nggak sama sekali. Kalo dipikir, selama setahun ini pacaran, udah banyak banget kenangan yang aku punya, itu aja udah sangat cukup. Tau bahwa kita berdua masih memiliki perasaan yang sama aja udah cukup. Walaupun ada beberapa perbedaan pendapat, konflik kecil atau besar, aku berharap semoga perasaan itu jangan sampai hilang. Sampai saatnya nanti, jika ada suatu hal yang benar-benar mengharuskan perasaan itu pergi. Entah kapan. Aku selalu takut memikirkannya.
Jadi, di liburanku dua minggu ini, aku disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang menurutku positif. Awal liburan, ada pelajaran tambahan selama tiga hari. Lalu akhir pekan pertama aku pergi ke klaten dan disana banyak saudara-saudara berkumpul. Setelah pulang ke Semarang, minggu kedua liburan aku sangat sibuk dengan kegiatan sosial care selama 4 hari. Banyak sekali manfaat dari kegiatan ini yang bisa aku petik. Sebuah pengalaman baru yang lumayan menyenangkan. Lalu hari jumat, aku main sama sahabat galauku Vanes dan Chandra. Terus malem tahun baru, aku sama keluarga besar dari papa ngadain acara di gunung pati. Tapi nggak ada bedanya juga sih, soalnya aku sampai sana juga langsung tidur, nggak begadang hehe. Nah nggak terasa akhirnya hari minggu, dan besok sekolah lagi.
Selama liburan ini aku memikirkan banyak hal. Dan aku merasa ada perubahan dariku. Aku merasa lebih mandiri. Bukan mandiri yang seperti orang-orang pikir sih, tapi mandiri yang aku maksud disini adalah aku mulai bisa untuk nggak bergantung sama orang lain. Terutama you-know-who yang selalu aku ceritakan. Soalnya sebelum liburan ini, rasanya aku terlalu bergantung banget, dan itu sangat merepotkan. Semoga saja seterusnya aku bisa begitu, walaupun aku tau itu pasti susah, waktu liburan aja tetep ada rasa kangen. Bisa dibilang kangen banget, sampai nggak bisa nahan air mata. Dan orang yang aku kangenin bilang dia nggak terlalu kangen. Cukup tau sih, tapi sebenernya aku udah bisa ngira dia bakal bilang gitu. Namanya cowok pasti perasaannya nggak serumit dan selabil cewek. Tapi aku udah punya tekad kuat untuk ini, semoga berjalan lancar.
Pikiran lain yang terlintas di otakku mengingat aku yang sudah tidak lama lagi duduk di bangku SMA yang indah ini, adalah pikiran tentang awal kehidupanku di SMA. Waktu SMP kelas 3, aku pikir pasti susah sekali masuk SMA 3, makanya itu aku belajar giat banget dan akhirnya bisa masuk. Beruntung banget bisa sekolah disini. Lalu disinilah aku, kelas sepuluh enam, kelas yang nggak bakal terlupakan. Dulu aku hidup bahagia banget di kelas ini, rasanya aku nggak terlalu peduli sama kelas lain, Cuma temen-temenku ini aja udah cukup buatku. Pikiran anak yang masih sangat polos. Selain itu, ada mochi yang masih menyenangkan untuk aku bergabung di dalamnya. Sekolah masih senin-sabtu. Jumat pake baju pramuka. Ekstrakurikuler sore hari. Berangkat dan pulang sekolah diantar jemput. Dan yang penting waktu itu, di otakku masih sangat sangat sedikit beban pikiran yang harus kupikir. Itu menyenangkan sekali, mengingat aku yang masih polos dan belum ada noda begitu. Hahaha. Hidupku kelas 10 seingatku Cuma main sama temen-temen. Dari awal GPLB, Live In, buka puasa bersama di sekolah, pensaga, dan semua event dari sekolah aku habiskan bersama teman-teman sekelas. Sampai akhir, perpisahan kelas ke jogja. Dengan aku sebagai bendahara, acara itu tergolong sukses untuk ukuran anak kelas 1 SMA. Dan sangat membekas sampai sekarang. Benar-benar masa kelas 10 yang tak terlupakan.
Beranjak dari situ, aku naik kelas dan duduk di kelas 11 ipa 9. Di periode ini, mulai muncul beberapa beban untuk dipikirkan. Di awal, aku berpikir apa aku bisa mendapatkan teman dekat, lalu mochi yang tadinya menyenangkan berubah menjadi membosankan dan aku nggak lagi eksis di dalamnya. Di kelas juga nggak ada yang menarik buatku. Hidupku awal kelas 11 bisa dibilang cukup suwung. Sampai suatu ketika aku berkenalan dengan seseorang. Dari sebuah jejaring sosial, dan berlanjut di sms, dan berlanjut di dunia nyata, dan berlanjut sampai sekarang. Berbarengan dengan ini, aku direkrut menjadi kasi 9 dan 10 osis, semenjak ini hidupku menjadi sangat berubah. Banyak sekali beban yang harus dipikul. Aku mulai bergaul dengan banyak orang, dengan berbagai karakter, berbagai gaya hidup, dan aku mulai berusaha mengimbangi mereka. Dulu aku selalu berpikir bahwa mencari banyak teman itu sangat baik. Nantinya pasti berguna, banyak kenalan, dan menurut teman-temanku, aku sudah tergolong anak gaul. Selalu sibuk dengan berbagai kegiatan, termasuk secara kasat matanya, pengeksisan diri. Tapi ternyata semua itu membuat aku menjadi orang yang tidak baik. Tidak baik disini karena aku menjadi gelap mata dan mempunyai ambisi kearah yang salah. Memang aku terlambat menyadarinya, karena itulah hal ini yang sampai sekarang menjadi penyesalanku. Apalagi dengan ambisiku ini, tanpa sadar aku menyakiti perasaan seseorang yang sangat penting. Dan orang tersebut nggak kukira menjadi teman sekelasku di kelas berikutnya.
Berkaitan ke topik karma yang pernah aku ceritakan di posting sebelumnya, aku mengalami masa masa sulit di awal kelas 12 ku, yaitu kelas 12 ipa 10. Bisa dibilang sangat sulit. Terjadilah perubahan karakter dariku. Jati diriku menghilang dibawa angin. Rasa percaya diri yang selalu aku bawa kemana-mana selama aku duduk di kelas 11 juga ikut menghilang seketika. Berakhirlah aku dengan kesendirian, masa dimana aku membenci diri sendiri dimulai. Banyak sekali kebencian, termasuk terhadap seseorang. Baru kali ini aku benar-benar membenci seseorang sampai seperti ini. Tiada hari tanpa menangis. Kacau sekali hidupku.
Tapi lama kelamaan aku introspeksi diri, dan mulai merubah semuanya. Tetap ada efeknya memang, tapi paling nggak, hidupku berangsur-angsur membaik. Turun jabatan OSIS, hidup sederhana, dan berusaha menghilangkan kebencian-kebencian. Walaupun sulit. Nah efek dari peristiwa tadi, aku jadi sensitif, perasa, pemikir, dan cengeng. Gampang sekali sekarang untuk menangis hahaha. Tapi menangis memang kadang bisa membuat perasaan lebih baik setelahnya, walaupun rasanya sangat nggak enak. Kalo di deskripsikan, menurutku rasanya sesak dan sakit yang ditahan di tenggorokan, setelah sedikit lama menahan rasa sakit, kelenjar air mata mulai memproduksi, dan air menetes dari pelupuk mata. Jadi begitu kira-kita proses terjadinya peristiwa menangis. (-_-’)
Naaah, sekarang keadaanku mulai membaik, atau mungkin, aku berusaha membuat keadaan lebih baik. Waktuku di SMA tinggal kurang lebih 6 bulan lagi. Dan aku yakin, 6 bulan ini bakal terasa cepat sekali. Maka dari itu, mulai sekarang aku harus berusaha menhilangkan beban-beban pikiran yang kurang penting agar bisa fokus belajar. Sebisa mungkin aku menghindari sesuatu yang bisa menimbulkan masalah. Otakku harus di refresh dan di kurangi isinya agar bisa diisi oleh materi-materi pelajaran yang pastinya sangat banyak.
(changing subtitle) So, that’s my short story about my life in senior high. I hope I can be consistant with my deal and focus about those things, forget unimportant problem, and study! My time is so limited now, so wish me luck :)