Selasa, 31 Januari 2012

Individualis vs Sosialis

Pernah dengar kata individualis? Itulah aku, kira-kira sejak lahir hingga SMP kelas 3. Tetapi semenjak memasuki SMA, karakter itu perlahan-lahan menghilang. Di SMA ku, aku banyak belajar tentang menjadi seseorang yang berguna bagi banyak orang. Aku selalu berusaha mengenal, dikenal, berinteraksi dan berhubungan baik dengan banyak orang lain, secara ikhlas. Seorang anak 15 tahun yang polos dan baik hati. Apalagi setelah aku menjadi salah satu pengurus osis. Disitulah tempat dimana aku dituntut untuk menjadi pribadi yang sosialis. Dan ternyata efeknya baik. Respect terhadap orang lainku pun terasah. Aku sudah bukan orang yang hanya memikirkan diriku sendiri, seperti 15 tahun belakangan.

Tetapi, dengan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, ternyata jalan hidup sesorang bisa berubah lagi. Hal yang buruk bisa menjadi baik, hal yang baik bisa menjadi buruk, dan begitu seterusnya. Dan di dalam ceritaku ini, faktor utama yang membuatku berubah lagi,

Adalah cinta.

Cinta membuat aku menjadi egois. Sangat egois. Aku menjadi seseorang yang gampang tersulut emosi, sulit memaafkan kesalahan orang lain, dan yang terburuk adalah menjadi seorang pendendam. Bukan hanya itu, bahkan aku sampai berusaha untuk membalaskan dendamku. Dendam akibat sakit hati. Aku sudah berusaha untuk melupakan rasa marah, dendam dan perasaan-perasaan buruk lainnya yang bersarang di dalam diriku. Tapi aku tidak bisa. Pengaruh buruk yang diakibatkan oleh jatuh cinta ini sangat kuat. Aku hanya bisa terhanyut ke dalam arus yang akan membawaku entah kemana.

Dan inilah aku, aku telah kembali menjadi pribadi yang individualis. Mungkin karena aku sudah kuliah, aku sudah bisa menentukan tujuan, cita-cita, dan harapan yang ingin aku wujudkan. Dan dengan adanya hal itu, aku terpaksa harus mendahulukan kepentinganku diatas kepentingan orang banyak. Ada yang bilang kalau jika kita sudah menjadi mahasiswa, maka kita akan menjadi seseorang yang individualis. Dan aku adalah saksi dan bukti nyata atas kebenaran teori ini.

Inilah saat-saat dimana aku merindukan masa SMAku. Masa SMA adalah masa yang paling indah. Satu lagi teori klise yang sudah dibuktikan kebenarannya.

Sekarang ini yang bisa aku lakukan hanya berusaha menekan obsesi-obsesiku yang kurang berguna, berusaha melupakan semua penyakit hati yang telah menggerogoti hampir seluruh organ hati yang ada di dalam tubuhku, berusaha menjadi orang yang berguna bagi orang banyak, dan berdoa. Semoga Tuhan memudahkan jalan hidupku tidak peduli seterjal apa rute yang harus aku lewati.

Oh, aku masih punye teori lagi. Sebagai pengakuan terakhir di posting ini, aku adalah orang yang sangat munafik. Jika orang lain ada yang bisa menunjukkan ketidaksukaannya kepada orang lain, aku adalah sebaliknya. Aku tidak akan pernah menunjukkan rasa tidak sukaku kepada orang yang aku benci, tetapi aku simpan di dalam blacklist untuk kemudian aku balas dengan cara yang lebih kejam. Itu adalah caraku. Sehingga semua orang akan mengakui bahwa aku adalah orang yang baik. Ini akan menjadi sangat sempurna. Tetapi semakin aku beranjak dewasa, aku berpikir bahwa untuk apa menyimpan dendam tidak penting yang akhirnya hanya akan menjerumuskanku. Jadi aku cuma bisa berteori lebih baik menahan rasa tidak sukaku terhadap orang lain daripada harus berhubungan buruk dengan orang tersebut. Orang yang berusaha menahan sisi buruknya sama baiknya dengan orang baik. That's the point.

Semoga suatu saat nanti aku bisa menjadi orang baik yang sesungguhnya.

Selasa, 17 Januari 2012

MLTR - 25 minutes

After some time I've finally made up my mind
she is the girl and I really want to make her mine
I'm searching everywhere to find her again
to tell her I love her
and I'm sorry 'bout the things I've done

I find her standing in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looks so happy in her weddingdress
but she's crying while she's saying this

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twentyfive minutes too late

Against the wind I'm going home again
wishing me back to the time when we were more than friends


But still I see her in front of the church
the only place in town where I didn't search
She looked so happy in her weddingdress
but she cryed while she was saying this

Chorus: Boy I've missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twentyfive minutes too late

Out in the streets
places where hungry hearts have nothing to eat
inside my head
still I can hear the words she said

Chorus:
Boy I've missed your kisses all the time but this is
twentyfive minutes too late
Though you travelled so far boy I'm sorry your are
twentyfive minutes too late

I can still hear her say.......

Sabtu, 14 Januari 2012

Aku bingung sama orang lain yang bisa dengan gampangnya ganti-ganti pacar. Apa mereka nggak merasa capek selalu jatuh cinta, kemudian patah hati, kemudian berjuang move on, kemudian jatuh cinta lagi, kemudian patah hati lagi, kemudian berjuang move on lagi, dan begitu seterusnya. Ya kalau kita punya hati sembilan mungkin tidak masalah, tapi kenyataannya kan hati manusia cuma satu. Menjalin cinta dengan satu orang saja biasanya hati kita masih bisa terluka sangat dalam bahkan sampai berbekas dan nggak bisa hilang, apalagi menjalin cinta berkali-kali dengan orang yang berbeda-beda?

Ada beberapa kemungkinan untuk kondisi ini. Pertama, mungkin dia tipe orang yang easy going. Atau teramat sangat very easy going. Jadi dia merasa bahagia jika berada disekitar orang yang sayang padanya, dan dia termasuk orang yang 'mudah terbawa'. Kedua, mungkin dia tipe orang yang perfectionist. Dia terlalu mengejar kesempurnaan, sehingga dia mempunyai toleransi yang sangat kurang jika pasangannya mempunyai beberapa kekurangan padahal dia sendiri belum tentu perfect. Atau ketiga, mungkin dia seorang psikopat.

Anyway, kalau aku justru ingin menjalin sebuah kisah cinta dengan satu orang saja. Kisah cinta yang abadi untuk selamanya. Tapi kisah seperti itu hanya ada di dongeng-dongeng remaja. Jika gagal dalam urusan cinta, semoga hanya satu atau paling banyak dua kali saja, tidak lebih. Dalam hidup terkadang kita harus melakukan kesalahan terlebih dahulu agar kita tau yang mana yang benar.

life is about choice

Aku terkadang, atau mungkin sering, memikirkan hal ini. Kenapa aku selalu dan harus berada di dua pihak yang memberikan tuntutan-tuntutan untukku. Di satu pihak, tuntutan dari orang-orang yang memang berhak menuntutku untuk melakukan sesuatu sesuai perintah mereka karena mereka punya kuasa penuh. Di pihak lain, ada pula yang menuntutku untuk melakukan sesuatu yang cenderung bentrok dengan pihak pertama, padahal pihak ini sama sekali tidak punya hak sama sekali. Jika punya mungkin perbandingannya hanya 10:90. Tetapi entah bagaimana aku harus memenuhi tuntutan-tuntutannya karena suatu hal yang tidak bisa aku abaikan. Jadi, dengan terpaksa aku harus selalu menggunakan otakku untuk menyatukan suara dari dua pihak yang berlawanan ini.

Hal ini sudah aku lakukan sejak lama dan masih terus berlanjut sampai sekarang. Ibarat jika kita sedang menderita sakit yang cukup parah, kita hanya selalu meminum obat penghilang rasa sakit saja, bukan meminum obat untuk menyembuhkan penyakit itu. Kira-kira analoginya demikian.

Dan kau tau? Rasanya sangat memuakkan.

Entah aku yang terlalu baik atau justru kurang tegas.

Tetapi inilah hidup, terkadang kita dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang sulit, dan yang bisa kita lakukan hanya memilih. Dan pilihan kita inilah yang akan menentukan nasib kita di masa depan.

Dan aku, mau tidak mau harus memilih diantara dua pihak ini, karena situasi yang semakin sulit, dan tidak memungkinkan lagi untuk aku mencari jalan tengah. Dengan perbandingan prioritas 10 berbanding 90, sudah jelas pihak mana yang harus aku pilih. Di dalam kita menentukan pilihan, pasti ada plus dan minus. Ada yang kita dapatkan, dan ada yang kita korbankan. Dan terkadang hal yang harus kita korbankan, adalah perasaan.